Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Hendra Husnussalam, S.S. M.Hum

Artikel Umum

REVITALISASI PENDIDIKAN

Dipublikasikan pada : 18 Juli 2014. Kategori : .

Setelah membaca tulisan Prof. Chaedar mengenai revitalisasi pendidikan, saya mencoba untuk menuangkan hasil interpretasi saya.

Sudah menjadi keyakinan umum bahwa, semenjak jaman dahulu hingga sekarang, kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan indikator keberhasilan pembangunan di sebuah negara, tidak terkecuali di Indonesia. SDM yang dimaksud adalah manusia – manusia cerdas yang mampu berpikir kritis dan memiliki karakter yang kuat sehingga mampu mengoptimalisasikan potensi diri dan menjawab segala tantangan dengan senantiasa menjunjung tinggi kepribadian yang handap asor dan berdisiplin. Untuk itu, bila kita berbicara tentang peningkatan mutu SDM maka hal pertama yang terlintas di benak kita adalah pendidikan. Ya, dapat dikatakan bahwa pendidikan merupakan ‘senjata ampuh’ dalam meningkatkan kualitas SDM.

Di Indonesia, upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa telah diamanatkan dalam Pembukaan Undang – Undang Dasar 1945. Oleh karena itu, demi tercapainya tujuan tersebut, maka pendidikan yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia saat ini adalah pendidikan yang mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan optimalisasi potensi dalam diri bangsa Indonesia agar mampu menjadi bangsa yang kuat dan dapat menghadapi serta mengatasi berbagai tantangan, baik untuk saat ini maupun masa mendatang. Hal ini sejalan dengan apa yang diutarakan oleh Winston Churchill, bahwa, di masa mendatang, kemaharajaan yang hakiki adalah kemaharajaan minda atau kecemerlangan dalam berpikir.

Saya setuju dengan Prof. Chaedar bahwa sudah selayaknya kita melakukan kaji ulang terhadap praktik pendidikan yang selama ini kita jalankan. Hal ini harus perlu dilakukan agar kita mampu menilai tingkat relevansi praktik pendidikan tersebut dengan kebutuhan dan kehidupan masyarakat yang senantiasa dinamis dan mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, revitalisasi pendidikan merupakan suatu keniscayaan agar pendidikan senantiasa berfungsi dan sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Tanpa hal tersebut, praktik pendidikan hanya akan berjalan secara stagnan yang pada akhirnya kurang mampu menjawab segala tantangan dan persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.

Untuk membatasi permasalahan dalam tulisan ini, saya akan mengemukakan revitalisasi pendidikan dalam dua bidang, yaitu pendidikan bahasa dan pendidikan karakter. Saya percaya bahwa prioritas utama revitalisasi pendidikan harus terlebih dahulu dititikberatkan pada kedua bidang tersebut.

Selama ini ada asumsi bahwa, secara fungsional, bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi. Namun, yang jauh lebih penting adalah bahwa bahasa merupakan alat berpikir. Kita dapat mengetahui dan memahami pola pikir kritis seseorang dari bahasa yang digunakannya. Lalu, apakah pendidikan bahasa di Indonesia saat ini sudah mampu meningkatkan daya kritis siswa? Revitalisasi seperti apakah yang diperlukan?

Revitalisasi yang kita perlukan adalah dengan memperbanyak porsi pendidikan sastra, baik itu puisi, cerpen, novel, atau bahkan drama. Sastra mampu meningkatkan daya kritis siswa karena melihat suatu fenomena secara lebih kritis, indah, natural, dan bertujuan untuk lebih ‘memanusiakan’ manusia. Novel karya Jonathan Swift berjudul Gulliver’s Travels, contohnya, begitu lantang, lugas, berani dan kritis dalam mengungkap hakikat manusia. Sementara puisi Aku karya Chairil Anwar begitu mampu mengobarkan semangat patriotisme di kalangan rakyat Indonesia waktu itu. Bahkan lagu Iwan Fals sekalipun yang berjudul Surat Buat Wakil Rakyat begitu berani dan kritis dalam mengungkap kebobrokan para wakil rakyat. Masih banyak contoh lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu per satu.

Meskipun demikian, kita harus mengkaji dan merevisi kurikulum mulai dari tingkat SD sampai perguruan tinggi agar porsi dan pemilihan konten pendidikan sastra bisa tepat sasaran. Yang jelas, pendidikan sastra adalah salah satu alat untuk meningkatkan daya kritis. Kita harus ingat bahwa salah satu alasan mengapa bahasa Inggris menjadi bahasa dunia adalah karena mereka memiliki SDM cerdas yang mampu melahirkan karya sastra yang semenjak abad 7 SM hingga sekarang, mulai dari Beowulf hingga Harry Potter, terus diekspor ke seluruh dunia dan memperoleh apresiasi luas dari masyarakat dunia. Maka, pantaslah bila pepatah mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat memelihara, melestarikan dan menghargai karya sastranya sendiri.

Revitalisasi berikut yang harus dilakukan adalah di bidang pendidikan karakter. Banyak pihak yang memandang pentingnya pendidikan karakter sudah harus diterapkan sejak dini agar anak di kemudian hari tumbuh menjadi manusia cerdas yang senantiasa berbudi luhur.

Dari sekian persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini adalah maraknya kasus korupsi. Banyak yang beranggapan bahwa hal tersebut salah satunya disebabkan oleh hilangnya karakter dari para pejabat. Oleh karena itu, pendidikan karakter sangat mutlak diperlukan oleh bangsa Indonesia. Apalagi, tuntutan kualitas sumber daya manusia di tahun 2021 yang sangat membutuhkan manusia – manusia dengan kepribadian luhur agar dapat menghadapi persaingan dari berbagai belahan dunia lain.

Untuk itu, kita memerlukan terobosan kurikulum khususnya dalam pendidikan karakter yaitu dengan memperbanyak porsi pendidikan karakter, mulai dari tingkat SD sampai perguruan tinggi. Walau bagaimanapun, salah satu kunci keberhasilan individu adalah karakter yang baik. Menurut sebuah riset di Amerika bahwa hampir semua kasus pemecatan disebabkan oleh perilaku yang buruk, seperti tidak jujur, tidak bertanggung jawab dan hubungan interpersonal yang juga tidak baik. Bahkan ada yang mengatakan bahwa nilai Intelligence Quotient (IQ ) yang tinggi tidak akan menjamin keberhasilan hidup seseorang apabila tidak disertai dengan Emotional Quotient (EQ).

Sebagai penutup, mari kita sama – sama berdoa dan berupaya agar bangsa Indonesia tumbuh menjadi bangsa yang cerdas dan berkepribadian luhur sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan dan tumbuh menjadi bangsa yang besar.